Jadi Karyawan

Remote Working Sebagai Sistem Kerja Masa Depan

Remote Working Sebagai Sistem Kerja Masa Depan

Penerapan sistem kerja secara jarak jauh (remote working) tak terhindarkan sejak pandemi Covid-19 melanda. Bahkan, implementasinya makin meluas dan menjadi tren yang harus direspons cepat oleh para pemangku kepentingan di dunia kerja.

Evaluasi dan persiapan regulasi pun harus segera dirumuskan agar tak terjadi gagap kebijakan untuk pelaku usaha dan pekerja. Remote working sebagai sebuah konsep manajemen membutuhkan keterampilan dan sumber daya khusus.

Konsep kerja ini membutuhkan self starting attitude dan manajemen waktu yang sangat ketat. Selain itu, harus terbangun komunikasi proaktif yang fokus terhadap kerja bersama karena minim sekali tatap muka.

Awalnya, konsep remote working mulai populer di kalangan startup. Tren ini menguat seiring dengan pandemi Covid-19 yang memaksa diterapkannya bekerja dari rumah atau work from home (WFH).

Baca juga: 10 Daftar Pekerjaan Baru di Era New Normal

Remote working sendiri berbeda dengan WFH. Konsep bekerja remote membuat seseorang memiliki kesempatan untuk membentuk lingkungan kerja sendiri, memilih tempat kerja yang nyaman, sehingga membuat energi bekerja menjadi lebih baik.

Sementara WFH dilakukan dalam suasana khusus dari rumah ketika seseorang berhalangan ke kantor. Namun, mereka masih memakai sistem kerja, komunikasi, dan struktur kerja selayaknya di kantor.

Remote working sudah lama menjadi tren di kalangan perusahaan rintisan. Lalu, kehadiran pandemi justru mempercepat implementasinya di hampir semua sektor sehingga orientasi kerja berubah pada hasil ketimbang proses.

Saat ini, regulasi sebagai dasar remote working di Indonesia belum ada. Artinya perlu deregulasi melalui perubahan undang-undang (UU) atau peraturan pelaksana. Namun, deregulasi UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan situasinya belum memungkinkan karena baru diselesaikannya UU Cipta Kerja.

Dengan begitu deregulasi bisa dilakukan terhadap sejumlah aturan yang stratanya di bawah UU.

Dalam UU Ketenagakerjaan ada aturan jam kerja 8 jam per hari, 40 jam per minggu dan itu di kantor. Jadi revisi UU tetap harus dilakukan, hanya saja waktunya saat ini tidak tepat.

Perubahan paradigma kerja ala remote working akan mengubah struktur pekerja. Artinya, jumlah karyawan dalam satu perusahaan akan lebih efisien dengan target kerja yang lebih efektif.

Selain regulasi, pemerintah juga wajib mempersiapkan sumber daya manusia (SDM). Jika seseorang bekerja dengan orientasi hasil akan sangat memungkinkan satu orang bisa bekerja di banyak tempat.

Jadi, status pekerja tetap di satu perusahaan menjadi lebih cair, atau bahkan menghilang. Namun, pekerja harus mempunyai skill tinggi agar bisa ditangkap di banyak bursa kerja. Dengan perubahan paradigma itu, pendapatan bagi pekerja seharusnya lebih tinggi.

Oleh sebab itu, pekerja juga harus bisa mengelola sendiri keuangan dan kebutuhan pada jaminan sosial jika tidak mendapatkan Jaminan Pensiun (JP) dan Jaminan Hari Tua (JHT). Adapun untuk Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) bisa ditiadakan karena menjadi tidak relevan dalam konsep remote working.

Pada mekanisme remote working, terjadi pula perubahan pada mekanisme promosi jabatan dalam ruang lingkup kerja. Pasalnya, untuk bisa meraih kesempatan karier struktural, setiap perusahaan akan tetap memiliki supervisor yang akan menjadi penyelia dari hasil kerja.

Dari semua kondisi itu, sektor yang paling siap saat ini adalah bidang pendidikan dan bidang yang terkait dengan pekerjaan dari kelompok pekerja kerah putih (white collar dengan kualifi kasi pendidikan tinggi, dan keahlian bidang tertentu, seperti kerja administratif dan manajerial.

Sementara untuk kelompok pekerja kerah biru (blue collar) diprediksi masih akan mengalami sejumlah tantangan untuk bisa bertransformasi ke sistem remote working.

Umumnya, blue collar adalah pekerja yang tidak memiliki kualifikasi pendidikan tinggi, dan termasuk golongan pekerja kasar, seperti pekerja pabrik, konstruksi, dan sebagainya.

Sektor lain yang tidak bisa remote working misalnya perhotelan seperti room boy tak mungkin kerja dari rumah. Lalu sektor transportasi seperti pilot atau pramugari juga tak mungkin kerja dari rumah.

Mekanisme remote working akan menyebabkan transisi besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Masa transisi ini menyerupai anak panah, di mana ada fase harus ditarik mundur ke belakang, tetapi setelahnya akan bisa melesat ke depan.

Remote working adalah kunci untuk manajemen kesuksesan kerja. Hal ini terbukti dengan efektivitas kerja yang masih bisa berjalan baik selama proses bekerja dari rumah alias WFH.

Meski begitu remote working tidak bisa diterapkan tanpa terpenuhinya sejumlah indikator penting yakni; infrastruktur, mempersiapkan tenaga kerja, dan manajemen pekerjaan. Pertama, kesiapan infrastruktur sangat berkaitan dengan teknologi atau platform kerja bersama antara lain; Google Meeting hingga Zoom.

Kedua, terkait manajemen pekerjaan, pentingnya dokumentasi proses dan hasil kerja sebagai tolok ukur kinerja.

Ketiga, terkait mempersiapkan sumber daya manusia. Dibutuhkan peran penting dari manajer untuk membantu efektivitas kerja dan mendorong target. Posisi manajer harus mengupayakan manajemen yang efektif dan berkemampuan dalam macro dan micro managing.

Peran manajer ini sangat menentukan output dan goals dari proses kerja remote working. Kalau saat ini, misal menggunakan KPI key performance indicator, mungkin untuk ke depan masih bisa berubah, karena harus dilihat proses day to day business.

Indikator penting lainnya ialah kemampuan belajar dan beradaptasi dengan perubahan yang begitu cepat. Kita sadari bahwa beban kerja dengan remote working menuntut kapasitas ekstra, baik dari sisi perilaku dan etika kerja.

Jadi penting bagi pekerja untuk memiliki integritas dan kemampuan berpikir kreatif. Harus orang yang punya curious mindset bisa bekerja pada era remote working, kemandirian berpikir, kreatif, lebih cepat dalam mencari tahu, belajar, dan menciptakan kreativitas.

Remote working juga menuntutsumber daya manusia (SDM) yang melek teknologi. Menurutnya, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kementerian Ketenagakerjaan harus mempersiapkan SDM agar adaptif terhadap berbagai perubahan.

Apalagi, tren dunia kerja ke depan sangat bergantung pada kemampuan mengaplikasikan infrastruktur digital.

Baca juga: 10 Aplikasi yang Dibutuhkan untuk Bekerja di Rumah

Sementara itu perubahan yang cukup besar dalam proses kerja selama masa pandemi ini masih membutuhkan waktu transisi, sehingga tidak semua jenis sektor usaha bisa mengadaptasi sistem

remote working. Meski begitu mekanisme kerja di masa depan akan sangat berubah. Jadi, tenaga kerja harus mulai beradaptasi dan meningkatkan kapasitas dalam mengaplikasikan teknologi digital.

Exit mobile version